Translate

Kamis, 09 Januari 2020

2 Pria Asal Bengkulu Terbukti Jual Cula Badak Rp 4 Miliar, Tertangkap di Lampung dan Divonis Penjara Setahun Delapan Bulan



Dua pria dari Bengkulu dijatuhi hukuman satu tahun delapan bulan penjara karena diduga menjual cula badak seharga Rp4 miliar.

Kedua lelaki itu bernama Ruslan Efendi (49) dari warga Benua Ratu Desa benua ratu kecamatan luas Kabupaten Kaur Bengkulu dan Isranto (46) dari warga Desa Tuguk Puguk, Kecamatan Luas Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu.

Keduanya menjalani sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang pada hari Rabu, 8 Januari 2020.

Majelis Hakim menyatakan keduanya bersalah sebagaimana diatur dalam pasal 40 ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf d UU. RI. No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Jo Jo Pasal 56 nomor 2 KUHP.

"Menyatakan Terdakwa Ruslan Efendi dan Isranto secara hukum dan terpidana melakukan kejahatan yang memberikan peluang, sarana melakukan kejahatan dengan secara sengaja memperdagangkan kulit, tubuh atau bagian lain dari satwa liar yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian tersebut atau memindahkannya dari satu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia, "Ketua Majelis Hakim Aslan Aini mengatakannya, Rabu (8/1/2020).

"Menghukum terdakwa Ruslan Efendi dan Isranto dengan hukuman penjara satu tahun delapan bulan, dengan denda Rp50 juta, jika tidak dibayar, kemudian diganti dengan hukuman penjara tiga bulan," tutup Aslan Aini sambil memukul palu pengadilan dua kali.

Dalam putusan ini, kedua terdakwa menerima dan siap untuk dihukum.

Demikian pula, Jaksa Penuntut Umum Ilhamd Wahyudi menerima vonis ini meskipun telah merosot selama 10 bulan dari tuntutannya.

Jaksa Penuntut Umum juga menuntut kedua terdakwa hukuman penjara dua tahun enam bulan dan denda Rp50 juta subsider 6 bulan.

Dalam gugatannya, Jaksa Penuntut Umum Ilhamd mengatakan tindakan terdakwa dimulai pada tahun 2018.

"Dalam hal ini, terdakwa Ruslan meminta A Manap (sudah menjalani dihukum) untuk menjual cula badak yang dia klaim sebagai paket dari seseorang," kata Ilhamd.

Selanjutnya Seorang A Manap meminta terdakwa Isranto untuk mencari pembeli.

"Hingga akhirnya pada 28 November 2018, cula badak itu ditransaksikan di Pesisir Barat Krui," katanya.

Dalam kesaksian itu, Ilhamd mengatakan, pihaknya menyetujui harga cula badak seharga Rp. 20 juta per gram.

"Ketika menimbang culak badak dengan memiliki berat 202 gram dan menyetujui bahwa badak bernilai Rp. 4 miliar, tetapi sebelum kesepakatan selesai, Polisi Daerah Lampung dan anggota TNBBS datang untuk menangkap," pungkasnya.

Sedangkan A Manap, terbukti memiliki dan menjual bagian tubuh satwa liar yang dilindungi, bernilai hingga Rp. 4 miliar.

Vonis terhadap terdakwa A Manap, warga Desa Durian Besar, Kecamatan Luas, Kabupaten Kaur, Bengkulu, dibacakan pada persidangan di Pengadilan Negeri Kelas IA Kelas Tanjungkarang, Selasa (23/4/2019).

"Itu diadakan (Selasa) kemarin sore, sidang terbang terakhir," kata Jaksa Ilhamd Wahyudi, Rabu (24/4/2019).

"Itu digelar (Selasa) kemarin sore, sidang kloter terakhir," kata Jaksa Ilhamd Wahyudi, Rabu (24/4/2019).

Selain dari hukuman penjara dua tahun, Ilhamd mengatakan, terdakwa A Manap juga didenda denda hingga Rp. 50 juta subsider penjara dua bulan.

"Sudah dinyatakan dua tahun di penjara dan denda hingga Rp. 50 juta dalam subsider selama dua bulan," katanya.

Ilham menjelaskan bahwa terdakwa A Manap secara hukum ditemukan dalam tuduhan Pasal 40 ayat 2 Jo Pasal 21 ayat 2 huruf d UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 Undang-Undang Hukum Pidana.

Vonis terhadap terdakwa A Manap lebih ringan dari setahun dari tuntutan jaksa selama tiga tahun. Namun, Kantor Kejaksaan Umum Ilhamd mengatakan telah menerima putusan hakim.

"Terdakwa juga menerima vonis," kenang Ilhamd.

Petugas yang menyamar

Dalam dakwaan, tindakan A Manap terungkap pada Oktober 2018.
Awalnya, dua pria bernama Din Martin Salim dan Abdul Kodir datang ke rumahnya di Desa Durian Besar, kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

Lelaki itu kemudian menunjukkan kepada Din dan Kodir sepotong Cula Badak Kepada Din dan Kodir, Manap mengatakan Cula Badak itu untuk dijual.

Beberapa hari kemudian, Kodir dihubungi oleh seorang pria bernama Wawan.

Lelaki itu rupanya petugas di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sedang melakukan penyamaran.

Kepada kodir, Wawan mengatakan ada orang yang ingin membeli Cula Badak. Pria itu siap bertransaksi di Krui, Pesisir Barat.

Masih mengacu pada dakwaan, Kodir menyebutkan bahwa Din tahu ada cula badak untuk dijual. Kodir kemudian memberi Wawan nomor ponsel Din.

Setelah komunikasi antara Wawan dengan Din dan kodir, disepakati bahwa konsumen akan membeli Cula Badak seharga Rp. 20 juta per gram.

Din bertemu Manap. Selanjutnya, Manap memberitahunya bahwa Cula Badak ditemukan pada seseorang bernama Mustafa. Din juga memanggil saksi Mustafa untuk pergi ke Krui untuk bertransaksi.

Transaksi akhirnya berlangsung pada 26 November 2018. Din berangkat dari Bintuhan, Bengkulu, bersama dengan Mustafa, Nova, Agung, Edian, dan Sapri ke Krui. Sementara kodir berangkat dari Tanggamus.

Sore hari sekitar pukul 15:30, Wawan dan seorang pria bernama Imo bertemu Din dan Kodir di Hotel Sempana 5, tepat di Kamar 4A. Pada pertemuan itu, Din menunjukkan sepotong Cula Badak seberat 202 gram setelah ditimbang. Harganya Rp. 4 miliar.

Namun, sebelum transaksi selesai, anggota Polda Lampung dan BB TNBBS datang untuk menangkap.

Minta Kekeringan

Dalam kasus ini, terdakwa A Manap dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Ia dinilai telah membuktikan dan memelihara serta melindungi bagian tubuh hewan.

Jaksa Penuntut Umum Ilhamd Wahyudi menjelaskan bahwa Terdakwa A Manap dinyatakan bersalah berdasarkan Pasal 40 ayat 2 Jo Pasal 21 ayat 2 huruf d UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab UU Hukum Pidana.

"Terdakwa A Manap dijatuhi hukuman 3 tahun penjara dan didenda hingga Rp. 50 juta subsider penjara enam bulan," kata jaksa penuntut umum Ilhamd pada sidang di Pengadilan Negeri Kelas I Tanjungkarang, Selasa (2/4/2019).

Di depan majelis hakim PN Tanjungkarang dipimpin oleh Aslan Ainin, terdakwa A Manap pada waktu itu meminta pertolongan atas tuduhan kriminalnya.

Ketua Hakim Aslan sempat menanyakan kepada A Manap tentang hukuman penjara tiga tahun dari jaksa penuntut umum.

"Terdakwa mendengar gugatannya?" tanya Aslan.

Seorang Manap mengakui bahwa dia tidak mendengar gugatan itu.

“Tidak dengar, Pak. Telingaku agak tuli. Jadi bagaimana?” ​​Kata warga Desa Durian Besar, Kaur, Bengkulu.

Jaksa Penuntut Umum Ilhamd Wahyudi menjawab, "Terdakwa dijatuhi hukuman 3 tahun penjara dan denda Rp. 50 juta subsider 5 bulan (penjara)!"

Seorang pria terkejut dan terdengar setengah meracau.

"Saya punya satu anak, punya istri, (mereka) makan apa? Saya tidak pernah dihukum," katanya.

"Jadi, minta bantuan?" tanya hakim ketua Aslan.

"Ya," jawab Manap sambil mengangguk.

"Nanti, pledoi (pebelaan). Sekarang persidangan kami sudah ditutup. Ini akan dilanjutkan lagi minggu depan," tutup Hakim Agung Aslan saat itu.

Perantara Diperlukan 3 Tahun

Sementara itu, perantara yang dituduh atas penjualan Cula Badak Sumatera dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Din Martin Salim (48) dan Abdul Kodir (65), kedua terdakwa, didakwa sebagai calo penjual Cula Badak Sumatra seberat 202 gram dengan nilai fantastis Rp. 4 miliar.

Gugatan itu dibacakan pada persidangan di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Kamis (4/4/2019).

Jaksa Penuntut Ilhamd Wahyudi menyatakan bahwa Terdakwa Din Martin dan Abdul Kodir melanggar Pasal 40 ayat 2 jo Pasal 21 ayat 2 huruf d UU No. 5  Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Pasal 55 Bagian 1 dari Bagian 1, Hukum Pidana.

"Minta juri untuk menjatuhkan hukuman penjara 3 tahun dan denda Rp. 50 juta subsider 3 bulan penjara pada terdakwa Din Martin dan Abdul Kodir," kata jaksa Ilhamd.

Pada persidangan Pengadilan Lampung, terdakwa Din Martin dan Abdul Kodir membungkuk ketika mereka mendengar pembacaan klaim. Keduanya kemudian ditanyai oleh ketua pengadilan Riza Fauzi.

"Apakah kamu mendengarnya? Jadi, pembelaannya baik lisan maupun tulisan?" tanya Riza.

"Lisan, Yang Mulia," jawab Din Martin.

"Apa yang dikatakan?" tanya Riza lagi.

Berbicara secara lisan, Din Martin menyatakan penyesalan atas tindakannya. Dia mengaku telah melakukan itu untuk bertahan hidup.

"Aku sangat menyesal. Aku mohon diberi keringanan. Aku hanya mempertahankan hidup. Aku sebatang kara. Aku tidak akan melakukannya lagi," katanya.

Pada hari Senin, Abdul Kodir mengajukan hukuman keringanan kepada hakim. Dia juga menyatakan penyesalan atas tindakannya.

"Saya sangat menyesal. Saya tidak tahu milik siapa (cula badak). Saya orang yang jauh dan kesepian, pria berusia 65 tahun. Saya hanya mencari makanan untuk bertahan hidup. Saya berjanji tidak akan mengulanginya.



EmoticonEmoticon