Translate

Kamis, 09 Januari 2020

Ahli Waris Driver Taksi Online Korban Begal Dapat Santunan dan Beasiswa Anak Hingga Tamat Kuliah



Badan Ketenagakerjaan untuk Jaminan Sosial (BPJS), yang sekarang memiliki sebutan baru BPJamsostek, memberikan kompensasi kepada penerima manfaat dari perampokan "taksi online" Ruslan Sani di Palembang.

Rusli Sani meninggal beberapa saat setelah dibunuh di Kecamatan Gandus Palembang.

Penyerahaan Samtumam, diberikan langsung oleh Direktur Pekerjaan BPJS Regional Sumbagsel, Arief Budiarto kepada ahli waris korban, di Kompleks RSS-C Griya Harapa Blok 3-E Block No. 14 RT 93/34 Sako Palembang, Rabu (8/1/2019).

Menurut Arief, jumlah total kompensasi adalah Rp. 78.820.030, yang terdiri dari beberapa manfaat yaitu, Bantuan Kematian (JKM) sebesar Rp. 42 juta,
Beasiswa untuk 2 korban sebesar Rp. 24 juta / tahun, Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar Rp. 11.857.335 dan Jaminan 11 bulan pensiun (lumpsum) sebesar Rp. 962.696.

"Jumlah yang diterima akan meningkat, karena beasiswa untuk anak-anak yang meninggal terus sampai akhir," kata Arief didampingi oleh Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Palembang Zain Setyadi.

Menurut dia, meskipun Ruslan meninggal karena pekerjaan paruh waktu sebagai pengemudi online, yang terakhir terlibat dalam Pekerjaan BPJS dari statusnya sebagai kehormatan di Rumah Sakit Palembang, selama 4 tahun terakhir.

"Kami di sini, tidak hanya memberikan santunan saja, tetapi ikut bela sungkawa dan menyampaikan kepada publik. Di sinilah kami datang untuk memenuhi hak-hak pekerja kami dan melakukan pembayaran santunan tepat waktu," katanya.

Menurut dia, di sisi pembayaran iuran hanya Rsp 16.800 dan tidak ada kenaikan iuran tetapi manfaat yang ditawarkan akan meningkat dari tahun sebelumnya menjelang akhir 2019.

Di mana pemerintah meningkatkan manfaat Perlindungan Kecelakaan Kerja (JKK), dan perlindungan BPJamsostek (JHT).

"Keuntungannya naik tetapi iuran tetap sama," katanya.

Singkatnya, katanya, untuk menjamin kecelakaan kerja, keluarga peserta, terutama anak-anak, akan menerima beasiswa dari BPJamsostek.
Di mana untuk 2 anak-anak dari TK hingga perguruan tinggi hingga peserta aktif yang meninggal atau cacat permanen karena kecelakaan kerja.

Taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD) senilai Rp. 1,5 juta, sekolah menengah (SMP) Rp. 2 Juta setahun, sekolah menengah (SMA) Rp. 3 juta anak setahun dan perguruan tinggi Rp 12 Juta per tahun.

Dengan jumlah anak ditanggung dua orang.

"Jadi, dari taman kanak-kanaknya sampai perguruan tinggi, BPJamsostek membayarnya. Beasiswa ini maksimum sebesar Rp. 12 juta hingga menjadi Rp. 174 juta atau hingga naik 1.350 persen.

"Biaya pemakaman juga naik menjadi Rp. 10 juta dari sebelumnya Rp. 3 juta," jelasnya.

Tidak hanya itu, seiring berjalannya waktu layanan yang diberikan juga semakin meningkat dan para peserta dapat merasakan manfaatnya.
Seperti layanan Homecare yang disediakan untuk maksimal satu tahun sebesar Rp. 20 juta.

"kan seseorang setelah perawatan di rumah sakit masih membutuhkan perawatan lebih lanjut di rumah. Yah, kami menutupi biaya yang dikeluarkan selama perawatan peserta aktif," katanya.

Penjelasan lebih lanjut, manfaat tambahan termasuk maksimal Rp. 2,5 juta alat bantu dengar, penggantian gigi tiruan sebesar Rp. 5 juta dari sebelumnya Rp. 3 juta.

Kemudian, biaya penggantian kacamata maksimal hingga Rp. 1 juta ditambah pemeriksaan diagnostik untuk kasus penyakit terkait pekerjaan untuk peserta yang telah didiagnosis dengan penyakit terkait pekerjaan

"Sebelum JHT mereka dicairkan ketika mereka tidak lagi dipekerjakan atau ditampung oleh perusahaan, kami memberikan pelatihan melalui program kejuruan untuk meningkatkan keterampilan peserta sehingga mereka dapat tetap produktif bahkan sebagai enterpreuner," tambahnya.

Sementara itu, keluarga korban Mariono mengaku bahwa mereka sangat tersentuh oleh partisipasi dan perhatian semua pihak, termasuk BPJS Ketenagakerjaan.

"Meskipun kita berduka hari ini, kita masih dihibur dan tidak sendirian dalam menghadapi bencana ini. Kami berterima kasih," katanya.

Mariono, yang adalah saudara laki-laki almarhum Ruslan, menjelaskan bahwa adik lelakinya bekerja sebagai honorer di Rumah Sakit Palembang, tetapi karena butuh biaya sehingga pekerjaan sampingannya sebagai pengemudi online.

"Kami tidak tahu apakah keluarga memiliki hak sama sekali. Dari sinilah manfaat BP Jamsostek berasal, artinya kami tidak sendirian, dan keluarga masih dilindungi oleh manfaatnya," katanya.

Pada saat yang sama, kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Edison Palembang, berharap santunan BPJS untuk ketenagakerjaan ini dapat dimanfaatkan oleh ahli waris.

"Menurut pendapat saya, ini adalah salah satu program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan akibat kecelakaan kerja. Mengingat orang yang meninggal telah menjadi tulang punggung keluarganya dan meninggalkan seorang istri dan dua anak," kata  Edison yang mewakili wakil walikota Palembang Fitrianti Agustinda yang berhalangan hadir.



EmoticonEmoticon